Sabtu, 24 Juli 2021

Menyoal Eksistensi Lembaga Pendidikan Kuttab

Angkasanews.id-
Senin, 27 Juli 2020 | 03:48WIB
3 menit baca
 Sejumlah santri penghafal Alquran atau hufaz berfoto bersama setelah menjalani prosesi wisuda di Masjid Baitussalam pondok pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Cemani, Grogol, Minggu (25/2/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS)
Sejumlah santri penghafal Alquran atau hufaz berfoto bersama setelah menjalani prosesi wisuda di Masjid Baitussalam pondok pesantren (Ponpes) Al-Mukmin, Ngruki, Cemani, Grogol, Minggu (25/2/2018). (Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS)
16859678893602362891

Solopos.com, SOLO – Lembaga pendidikan kuttab tengah menjadi tren akhir-akhir ini. Keberadaan pendidikan alternatif ini seolah menjadi jawaban atas ketidakpuasan orang tua terhadap kebutuhan pendidikan agama Islam dalam sistem pendidikan Indonesia.

Menariknya, dalam riset yang dilakukan Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Semarang ditemukan kuttab sudah ada sejak masa awal perkembangan Islam. Eksistensi itu berusaha dihadirkan kembali oleh Kuttab Al Fatih (KAF) di Depok, Jawa Barat pada 2012.

KAF lalu berkembang ke sejumlah kota di Indonesia. Data terakhir menunjukkan KAF memiliki 25 cabang. Di tanah air, jumlah itu belum termasuk selain KAF.

Saat ini, baik Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum memiliki data tentang keberadaan Kuttab. Umumnya, secara legal formal, Kuttab menjadi unit Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang izinnya berada di bawah Kemendikbud.

Pendidikan Dasar

Lembaga pendidikan kuttab saat ini dimaknai sebagai lembaga pendidikan nonformal setingkat pendidikan dasar. Ia bisa menggantikan peran sekolah formal pada jenjang yang sama.

“Oleh karenanya lulusan kuttab dapat melanjutkan ke sekolah formal di sekolah menengah pertama atau madrasah tsanawiyah,” kata peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balai Litbang Agama Semarang, Aji Sofanudin, dkk, sebagaimana rilis kepada Solopos.com, Sabtu (11/7/2020).

Dalam riset itu juga terungkap sebagian besar kuttab merujuk pada “Ijtihad” yang dibuat KAF. Kendati, ada beberapa penyesuaian khususnya bagi kuttab di luar jejaring KAF.

Peneliti sedikitnya menemukan tiga model pengelolaan kuttab. Model pengelolaan dalam KAF misalnya, ada jenjang kuttab awwal (kelas I, II, III) dan kuttab qonuni (kelas I, II, III, IV).

Selain itu, ada pula model Ibu Abbas yang menyerupai jenjang TK dan SD yakni tamhidy dan kuttab (kelas I, II, III, IV, V, VI). Selain itu, ada model Al Jazary yang mengacu pada madrasah salafiyah ula-wustho-ulya.

“Pola Kuttab Al Jazary sebenarnya secara formal mengacu dari madrasah salafiyah yang merupakan lembaga pendidikan yang sudah ada dalam regulasi Kementerian Agama,” ujar Aji.

Menurut Aji, penggunaan nama Kuttab sendiri dipakai sebagai “branding” karena jenis lembaga pendidikan kuttab diyakini sedang menjadi tren di masyarakat.

Regulasi

Aji menjelaskan dari segi regulasi perizinan, lembaga pendidikan kuttab ini terbagi menjadi empat pola. Pertama, kuttab berizin operasional sebagai unit dari PKBM di bawah Dinas Pendidikan. Kedua, berizin operasional sebagai pendidikan kesetaraan tingkat ula di bawah Kementerian Agama.

“Ketiga, menginduk pada PKBM lain. Keempat, belum memiliki izin operasional,” sambung Aji.

Dalam riset itu juga terungkap muatan pengajaran kuttab sebagian besar adalah materi keagamaan. Namun, sebagai lembaga pendidikan dasar bagi anak-anak, kuttab lebih mengutamakan “pewarisan nilai” daripada “pengetahuan”.

Oleh karena itu, dalam kuttab ada sebuah motto, “Adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal, iman sebelum Al-Qur’an.” “Yang bermakna bahwa pembinaan dan pembentukan akhlak Islam diutamakan lebih dahulu sebelum pengetahuan yang lain,” terang Aji.

Dalam riset itu, peneliti memberikan rekomendasi kepada Kementerian Agama kabupaten/kota agar lebih intensif menyosialisasikan regulasi pendidikan terutama terkait muaddalah, diniyah formal, dan pendidikan kesetaraan.

“Penyuluh agama Islam dan atau pengawas PAI tingkat dasar perlu menambah wilayah binaan ke kuttab yang ada di wilayah kerjanya,” pesan peneliti.

Kementerian Agama juga perlu memfasilitasi terbentuknya lembaga koordinasi kuttab sebagai wadah silaturahmi dan penjaminan mutu.

Selain itu, Kementerian Agama perlu melanjutkan kajian dan terobosan dalam hal regulasi agar kuttab bisa tercatat sebagai lembaga nonformal binaan Kementerian Agama.

Riset itu digelar di Jawa Tengah pada 2019. Riset digelar melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen. Ada tujuh lembaga pendidikan kutttab jadi lokus riset tersebar di Purwokerto, Tegal, Surakarta, Klaten, dan Kendal.

 

Sumber : https://www.solopos.com

Peristiwa

Hukum & Kriminal

Langganan Konten

Berlangganan buletin kami untuk mendapatkan berita terbaru, berita populer, dan pembaruan eksklusif.

Loading

Tulis Komentar Anda

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terkini Lainnya

SMP N 2 Karangnongko di Lereng Merapi Gelar MPLS Secara Online Berjalan Lancar

SMP N 2 Karangnongko di Lereng Merapi Gelar MPLS Secara Online Berjalan Lancar Kepala Sekolah…

SMP N 2 Manisrenggo Klaten Gelar MPLS Secara Online

SMP Negeri 2 Manisrenggo Klaten Gelar MPLS Secara Online SMP N 2 Manisrenggo Klaten Jawa…

Kabar Gembira,Pemkab Klaten Membuka 154 Lowongan CPNS

Kabar Gembira, Pemkab Klaten Membuka 154 Lowongan CPNS. Ada kabar gembira bagi masyarakat Klaten, khususnya…

Tekan Covid 19,Polres Klaten Gelar Operasi Yustisi Prokes dan Patroli Penertiban Warung

Tekan Covid 19,Polres Klaten Gelar Operasi Yustisi Prokes dan Patroli Penertiban Warung Saat ini PPKM…

Pemcam Manisrenggo Klaten Lengkapi Sarana dan Prasarana Tempat Isolasi Terpusat Pasien Covid 19

Pemcam Manisrenggo Klaten Lengkapi Sarana dan Prasarana tempat Isolasi Terpusat pasien Covid 19   KBRN;Klaten…

Cegah Kasus Covid 19,Candi Borobudur Ditutup Sementara

Cegah Kasus Covid 19, Candi Borobudur Ditutup Sementara PT  Taman  Wisata  Candi  Borobudur,  Prambanan  & …

Aparat Gabungan di Klaten Tutup Warung dan Tempat Usaha Yang Buka di Atas Pukul 21.00 Wib

Aparat Gabungan di Klaten Tutup Warung dan Tempat Usaha yang Buka di Atas pukul 21.00…

Kasus Covid 19 di Klaten Menggila Musda KAHMI Dipersingkat

Kasus Covid 19 di Klaten Menggila, Musda KAHMI Dipersingkat Karena Kabupaten Klaten kini sedang zona…

TNI dan Rakyat Gotong Royong Pengecoran Jalan Desa

TNI dan Rakyat Gotong Royong  Pengecoran Jalan Desa TNI dan rakyat yang tergabung dalam TMMD…

Ribuan Warga Jadi Sasaran ,Serbuan Vaksinasi di Klaten

Ribuan Warga Jadi Sasaran ‘Serbuan Vaksinasi’ di Klaten Polres Klaten bersama Kodim dan Pemkab Klaten…